Tampilkan postingan dengan label journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label journal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

monitoring kadar air tanah melalui pengukuran sifat dielektrik pada lahan jagung

silahkan download aja filenya yahh....!!


DOWNLOAD
read more

petapan kadar air tanah melalui pengukuran sifat dielektrik pada berbagai tingkat kepadatan

penelitian ini bertujuan untuk menetapkan nilai impedansi listrik dan kadar air tanah pada berbagai tinkat kepadatan. Manfaat penelitian ini adalah guna mendapatkan teknik pendugaan kadar air tanah yang akurat.

untuk lebih jelasanya silahkan download dibawah ni fhian share linknya

DOWNLOAD
read more

Sabtu, 18 Desember 2010

POLA PENGALIRAN SUNGAI PURBA CISADANE DI KOTA TANGERANG BERDASARKAN NILAI TAHANAN JENIS BATUAN


Abstract
Geological setting of Tangerang City belongs to the western part of the Jakarta Basin. The area is covered by coastal alluvial deposit, delta deposit, and volcanic product. Understanding the distribution and groundwater pattern either in the shallow part or the deep part is one of the basic for a geometric and its groundwater flow in identifying paleo base flow Cisadane River. The result of the aquifer distribution either in the shallow or the deep part this study is approached by the geoelectrical survey, hydrogeological survey in the field and well data. In general, the shallow aquifer developed to downward becoming semi confined aquifer and confined aquifer. Groundwater flow pattern indicated locally cones depression of groundwater level, especially surrounding the city. This depression of groundwater level is considered related with the natural shape of aquifer as lances. However, it was possible to deskription to morfing processing source rock.
Key word : Jakarta Basin, Groundwater flow pattern, aquifer and groundwater

Abstrak

Secara geologi, Kota Tangerang termasuk dalam Cekungan Jakarta bagian Barat, yang tersusun oleh endapan aluvium pantai, endapan delta dan sebagian tersusun dari material gunungapi.. Kegiatan penelitian untuk mengetahui sebaran dan pola pengaliran airtanah baik dangkal ataupun dalam yang merupakan salah satu dasar geometri tempat dan mengalirnya sebagai dasar untuk mengetahui pola mengaliran sungai purba Sungai Cisadane.
Pendekatan survey geolistrik, pengamatan hidrogeologi di lapangan dan kompilasi dengan data pemboran telah menghasilkan sebaran (meski geometri 2 dimensi) akifer baik dangkal maupun dalam. Umumnya, akifer dangkal berkembang ke arah dalam menjadi akifer semi tertekan dan akhirnya tertekan. Pola pengaliran menunju kkan depresi konus muka airtanah setempat terutama pada sekitar kota. Kondisi demikian diduga bentuk alamiah akifer berupa lensa dan bisa mendeskripsikan pembentukan batuan asal
Kata kunci: Cekungan Jakarta, Pola pengaliran, batuan pembawa air (aquifer) dan
airtanah.

1.      PENDAHULUAN

Sejalan dengan pesatnya perkembangan pembangunan pelbagai sektor di Kota-kota besar dan kota Tangerang termasuk diantaranya, dapat memacu kebutuhan sumberdaya alam dan kemungkinan timbulnya permasalahan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan hingga persoalan sosial ekonomi. Salah satu kebutuhan adalah ketersediaan adanya sumber air sebagai faktor utama untuk
berlangsungnya kegiatan proses produksi, menjadi sangat dominan sehingga diperlukan adanya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya air secara selektif sesuai dengan kemampuan dan kapasitas sumberdaya air yang dimiliki.
Air yang kita gunakan sehari-hari telah menjalani siklus meteorik, yaitu telah melalui proses penguapan (presipitation) dari air laut, danau maupun sungai; lalu mengalami kondensasi di atmosfer dan kemudian menjadi air hujan yang turun ke permukaan bumi. Air hujan yang turun ke permukaan bumi tersebut, ada yang langsung mengalir di permukaan bumi (run off) dan ada yang meresap ke bawah permukaan bumi (infiltration).
Daerah Tangerang dan sekitarnya telah banyak diteliti seperti oleh : Effendi, A.C., etc., 1974 ; Suyitno dan Yahya, 1974 ; Turkandi, T. etc, 1992 untuk
pemetaan Geologi regional, kemudian IWACO, 1986 ; Tirtomihardjo, H., dkk.,1996-2000; Hadipurwo, Haryadi, T., Fauzi, M., 1994; Haryadi, T., dkk., 1996, ;Hadipurwo, S., dan Hadi, S., 2000 ; Prawoto, N., 2001 untuk penelitian Konservasi Airtanah Daerah Jakarta dan sekitarnya. Dan Sukardi, P., 1986 ; Murtianto, E., etc., 1994, Hadian,dkk, 2006 melakukan pemetaan hidrogeologi
detail. Kota Tangerang menjadi sangat penting dan menarik untuk dilakukan. Tulisan ini mencoba mengungkap sebaran dan pola aliran airtanah yang kemudian dapat memprediksi pola aliran purba, sehingga diperoleh kejelasan geometri akifer dan potensinya.

2.      GEOLOGI

Jenis litologi, stratigrafi batuan dan kondisi struktur geologi yang membentuk daerah kajian dan sekitarnya dikenal dengan sebutan Tangerang High  (Suyitno dan Yahya, 1974). Tinggian ini terbentuk oleh batuan Tersier yang memisahkan cekungan Jawa Barat Utara di bagian Barat dengan cekugan Sunda di bagian timur. Tinggian ini dicirikan oleh kelurusan bawah permukaan berupa
lipatan dan patahan nomal yang berarah Utara-Selatan. Di bagian Timur patahan normal tersebut terbentuk cekungan pengendapan yang disebut dengan Jakarta Sub Basin.
Cekungan Jakarta tersebut mempunyai ciri adanya endapan aluvial yang tebal, sedang cekungan di Barat Tangerang High memiliki ciri endapan pantai dan delta. Struktur-struktur tersebut pada saat ini sulit dijumpai di permukaan karena pada saat ini endapan Kuarter yang berumur lebih muda telah menutupi lapisan batuan tersebut. Endapan Kuarter yang menutupi batuan tersebut berupa batuan Volkanik yang berasal dari G. Gede-Pangrango dan G. Salak. Hampir seluruh dari daerah kajian ditutupi oleh batuan volkanik yang berasal dari Gunung Gede - Pangrango dan Gunung Salak serta sebagian kecil ditutupi oleh endapan aluvial.:
a. Satuan Batuan Tuf Banten Atas / Tuf Banten
Satuan ini terdiri atas lapisan tuf, tuf batu apung dan batu pasir tufaan yang berasal dari letusan Gunung Rawa Danau. Tuf tersebut menunjukkan keadaan yang lebih asam (pumice) dibandingkan dengan batuan volkanik yang diendapkan sesudahnya. Pada bagian atas satuan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi pengendapan dari di atas permukaan air menjadi di bawah
permukaan air. Satuan ini berumur Plio – Pleistosen atau sekitar dua juta tahun yang lalu.
b. Endapan Kipas Aluvium Volkanik Muda
Endapan ini terdiri atas material batupasir dan batu lempung tufan, endapan lahar, dan konglomerat. Ukuran butiran pada endapan kipas aluvial ini berubah menjadi semakin halus ke arah utara. Satuan ini terbentuk oleh material endapan volkanik yang berasal dari gunungapi di sebelah selatan Kabupaten Tangerang seperti Gunung Salak dan Gunung Gede - Pangrango. Batuan ini
diendapkan pada umur Pleistosen (20.000 – dua juta tahun yang lalu). Kipas aluvial volkanik tersebut terbentuk pada saat gunungapi menghasilkan material volkanik dengan jumlah besar. Kemudian ketika menjadi jenuh oleh air, tumpukan material tersebut bergerak ke bawah dan melalui lembah. Ketika mencapai tempat yang datar material tersebut akan menyebar dan membentuk endapan seperti kipas yang disebut dengan kipas aluvial.
c. Endapan Pantai dan Endapan Pematang Pantai
Endapan batuan ini berasal dari material batuan yang terbawa oleh aliran sungai dan berumur antara 20.000 tahun yang lalu hingga saat ini. Endapan tersebut tersusun oleh material lempung, pasir halus dan kasar, dan konglomerat serta mengandung cangkang molusca. Endapan aluvial tersebut dapat membentuk endapan delta, endapan rawa, endapan gosong pasir pantai, dan endapan sungai
dengan bentuk meander atau sungai teranyam.
d. Endapan Aluvium
Endapan ini terdiri atas lempung, lanau, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang berumur Kuarter. Tersebar pada daerah pedataran serta sekitar aliran sungai.
3. METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pemetaan detil geologi dan survey muka airtanah dan survey geolistrik serta analisis data hasil pemboran. Pemetaan geologi dilaksanakan dengan sistem travers kompas dan pendeskrisian atas batuan yang tersingkap. Inventarisasi batuan-batuan yang dapat berfungsi sebagai akifer dan lapisan batuan yang bersifat impermeabel atau tidak
meluluskan air. Survey lapangan sekaligus melakukan pengukuran muka airtanah pada sumur-sumur gali (akifer dangkal). Metoda geolistrik adalah salah satu metoda geofisika untuk menyelidiki kondisi bawah permukaan, yaitu dengan mempelajari sifat aliran listrik pada batuan di bawah permukaan bumi. Kurang lebih 200 titik survey geolistrik telah dilaksanakan. Kompilasi dan korelasi antara hasil analisis ketiga survey tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran sebaran dan pola aliran airtanah akifer tak tertekan dan akifer tertekan. Untuk mempermudah kejelasan hasil analisa, hasil
penelitian ditampilkan dalam bentuk peta.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Akifer yang berkembang pada Kecamatan Batuceper adalah litologi pasir
tufaan. Adapun ketebalan dari akifer tersebut beragam, yaitu akifer dangkal
(kedalaman kurang dari 50 m) memiliki ketebalan mulai dari 5 m – 25 m dan
akifer dalam (kedalaman lebih dari 50 m) memiliki ketebalan 4 m – 80 m. Akifer
dangkal (kedalaman kurang 50 m) adalah akifer bebas (tak tertekan) dan pada
tempat yang semakin dalam berubah menjadi akifer semi tertekan. Sedangkan
akifer dalam (kedalaman lebih 50 m) merupakan akifer tertekan yang dibatasi
oleh dua lapisan kedap air (impermeable layer) pada bagian atas dan bawahnya.
Penampang G-H merupakan suatu contoh sebaran vertikal dalam kaitan dengan
sifat dan ketebalan akifer (Gambar 1).
Sementara itu, akifer yang berkembang di Kecamatan Benda pun berupa
litologi pasir tufaan. Adapun ketebalan dari akifer tersebut beragam, yaitu akifer
dangkal (kedalaman kurang dari 50 m) memiliki ketebalan mulai dari 5 m – 25 m
dan akifer dalam (kedalaman lebih dari 50 m) memiliki ketebalan 4 m – 80 m.
Akifer dangkal (kedalaman kurang 50 m) adalah akifer bebas (tak tertekan) dan
pada tempat yang semakin dalam berubah menjadi akifer semi tertekan.
Sedangkan akifer dalam (kedalaman lebih 50 m) merupakan akifer tertekan yang
dibatasi oleh dua lapisan kedap air (impermeable layer) pada bagian atas dan
bawahnya.
Berdasarkan hasil pengukuran lapangan di Kecamatan Jatiuwung dan
Periuk, kemudian dibuat penampang tegak tahanan jenis yang disajikan pada
Gambar 2 dan 3. Informasi yang bisa didapat dari penampang tegak tahanan jenis
adalah nilai tahanan jenis pada tiap kedalaman. Hasil dari pengolahan data
lapangan, diperoleh bahwa tahanan jenis pada daerah penelitian dapat
dikelompokan ke dalam 5 kelompok nilai tahanan jenis. Kelompok nilai tahanan
jenis tersebut, yaitu :
· Kelompok nilai tahanan jenis 0 – 5 Ohm m.
· Kelompok nilai tahanan jenis 5 – 10 Ohm m.
· Kelompok nilai tahanan jenis 10 – 15 Ohm m.
· Kelompok nilai tahanan jenis 15 – 30 Ohm m.

· Kelompok nilai tahanan jenis >30 Ohm m.
Kelompok nilai tahanan jenis tersebut, kemudian diinterpretasikan
berdasarkan karakteristik fisiknya untuk memperoleh kemungkinan jenis litologi,
seperti dibawah ini :
· Nilai tahanan jenis 0 – 5 Ohm m kemungkinan memiliki litologi
lempung.
· Nilai tahanan jenis 5 – 10 Ohm m kemungkinan memiliki litologi
lempung pasiran.
· Nilai tahanan jenis 10 – 15 Ohm m kemungkinan memiliki litologi tuf
pasiran.
· Nilai tahanan jenis 15 – 30 Ohm m kemungkinan memiliki litologi
batupasir lempungan.
· Nilai tahanan jenis >30 Ohm m kemungkinan memiliki litologi
batupasir.
Sedangkan kedalaman penetrasi yang diperoleh dari hasil pengukuran
lapangan adalah bervariasi tergantung kondisi lapangan, dengan penetrasi
terdalam sampai 160 m. Kedalaman dari kelompok nilai resistivitas yang
diperoleh dari hasil pengukuran lapangan adalah sebagai berikut :
· Kelompok nilai tahanan jenis 0 – 5 Ohm m diperoleh mulai pada
kedalaman 3 m bmt (lokasi MR1) sampai ditemukan pada kedalaman
>120 m bmt (lokasi P11).
· Kelompok nilai tahanan jenis 5 – 10 Ohm m diperoleh mulai pada
kedalaman 4 m bmt (lokasi SL3) sampai ditemukan pada kedalaman
100 m bmt (lokasi TM5).
· Kelompok nilai tahanan jenis 10 – 15 Ohm m diperoleh mulai pada
kedalaman 0.75 m bmt (lokasi MR5) sampai ditemukan pada kedalaman
110 m bmt (lokasi P2).
· Kelompok nilai tahanan jenis 15 – 30 Ohm m diperoleh mulai pada
kedalaman 0 m bmt (lokasi VMP1) sampai ditemukan pada kedalaman
> 90 m bmt (lokasi VMP3).
· Kelompok nilai tahanan jenis >30 Ohm m diperoleh mulai pada
kedalaman 0 m bmt (lokasi DPT5) sampai ditemukan pada kedalaman >
50 m bmt (lokasi DPT5).
a. Peta Kontur Tahanan Jenis
Peta kontur tahanan jenis dihasilkan berdasarkan data yang diperoleh dari
penampang tegak tahanan jenis berupa nilai tahanan jenis dan kedalamannya.
Maka dibuatlah peta kontur tahanan jenis dengan interval 2.5 Ohm m masingmasing
pada kedalaman 15m, 30m, 45m, 60m, dan 75m. Pada peta kontur
tahanan jenis ini memberikan informasi nilai tahanan jenis batuan pada
Kecamatan Jatiuwung dan Periuk.
· Kedalaman 15 m
Pada kedalaman ini, penyebaran nilai resistivitas bervariasi kurang dari 12
Ohm m; 15 – 20 Ohm m yang kemungkinan dapat berpotensi sebagai akifer;
dan lebih besar dari 20 Ohm m. Dilihat dari keberadaan kontur nilai
resistivitas yang bervariasi ada yang rapat dan renggang serta ada yang
tertutup dan terbuka, hal ini menunjukan bahwa kondisi bawah permukaan
daerah Kecamatan Priuk dan Jatiuwung tidak merata, dan kebanyakan lapisan
batuan tidak berhubungan secara lateral maupun vertical. Nilai resistivitas 15
– 20 Ohm m terdapat di daerah :
- Gandasari
- Cikoneng
- Periuk Jaya
- Jatake
· Kedalaman 30 m
Bila kita tinjau posisi yang lebih dalam yaitu pada kedalaman 30 meter
dibawah permukaan tanah, pola umum hampir sama disini terdapat kontur
yang lebih rapat untuk nilai di atasd 25 Ohm meter terutama di sebelah barat –
barat laut Vila Mutiara Pluit dan sebelah selatan daerah kajian hanya
cakupannya lebih sempit dibandingkan dengan yang utara. Lapisan batuan
dengan nilai tahanan jenis 15 – 20 Ohm meter cukup luas. Pada kedalaman
ini, penyebaran nilai resistivitas 15 – 20 ohm m yang berpotensi sebagai
akifer, terdapat pada daerah : Cibodas, Jatake, Cikoneng, Gembor,
Keroncong, Gerbang Raya, Villa Mutiara
· Kedalaman 45 m
Pada kedalaman ini Pola kontur resisitivitas tidak jauh berbeda dengan pada
posisi 30 meter di bawah permukaan tanah, hanya nilai resisitivitas di atas 25
banyak tersebar dengan bentuk kontur tertutup, hal ini meninjukkan bentuk
tubuh batuan banyak yang berbentuk lensa-lensa. Penyebaran nilai resistivitas
15 – 20 ohm m yang berpotensi sebagai akifer, terdapat di daerah : Cibodas,
Cikoneng, Jatake, Villa Mutiara, Periuk Jaya
· Kedalaman 60 m
Pada kedalaman ini pola kontur cukup merata dan agak renggangg, distribusi
lapisan cukup merata, bentuk lensa sedikit terdapat dengan distribusi nilai
resisitivitas berkisar dari 30 hingga 90 Ohm meter.
· Kedalaman 75 m
Pada kedalaman ini kerapatan kontur resisitivitas sedikit lebih rapat dan
bentuk lensa lapisan batuan terdapat pada beberapa tempat dengan luas yang
lebih besar dibandingkan pada posisi kedalaman 60 meter; penyebaran nilai
resistivitas 15 – 20 ohm m yang berpotensi sebagai akifer, terdapat pada
daerah : Cibodas, Jatake, Cikoneng, Gerbang raya, Villa Mutiara, Periuk
Jaya
Morfologi pada endapan aluvial pantai umumnya datar sampai sedikit
bergelombang. Dari segi kuantitas, airtanah pada endapan aluvial pantai dapat
menjadi sumber airtanah yang baik terutama pada lensa-lensa batupasir lepas.
Kondisi airtanah endapan aluvial pantai banyak ditentukan kondisi geologi
di hulunya. Endapan aluvial ini dapat menjadi tebal jika cekungan yang
membatasi terus menurun karena beban endapannya, misalnya dibatasi oleh
sesar/patahan turun. Akifer pada sistem ini tersusun oleh endapan pasir halus yang
belum terkompaksi dan setempat terdapat airtanah segar.
b. Karakteristik pola pengaliran dan fisik airtanah
Pada peta pola aliran airtanah dangkal nampak bahwa terbentuk depresi
konus airtanah terutama di sekitar kota Tangerang. Beberapa hal mungkin
menjadi penyebab dari kondisi tersebut yaitu akibat perkembangan secara alami
geometri akifer dari endapan delta yang cenderung membentuk lensa-lensa
barupasir. Sementara itu, depresi aliran juga terbentuk pada zona yang hampir
sama terjadi pada peta pola aliran air tanah dalam. Selain kondisi yang sama
dengan kondisi alamiah berupa endapan delta dengan lensa-lensanya.
Sebagai tambahan, berdasarkan pola sebaran batuan sangat
memungkinkan bahwa sungai Cisadane purba bukan berada di posisi sekarang
dikarenakan dari sebaran tahanan jenis yang memungkinkan bahwa sungai
Cisadane bergerak menuju timur dari pola yang ada. Dan berdasarkan sebaran
lensa-lensa yang bisa estimasi sebagai pola aliran sungai purba.
5. KESIMPULAN
Akifer yang berkembang pada daerah penelitian adalah litologi pasir
tufaan. Sementara itu, akifer yang berkembang di Kecamatan Benda pun berupa
litologi pasir tufaan. Tipologi akifer yang berkembang pada Kecamatan ini adalah
Sistem Endapan Aluvial Pantai. Batuan penyusun akifer ini umumnya berupa
lempung, pasir dan kerikil hasil dari erosi, dan transportasi dari batuan di bagian
hulunya.
Pola pengaliran airtanah relatif ke arah timur dan terbentuk depresi konus
aliran airtanah terutama di kota Tangerang. Kondisi demikian menunjukkan dua
penyebab yang memungkin yaitu perkembangan lensa-lensa secara alamiah
terbentuk pada daerah tersebut atau pengambilan airtanah yang berlebih khusus di
zona tersebut. Untuk itu, Kawasan depresi airtanah perlu ditelaah lebih lanjut
guna diambil langkah kebijakan terkait dengan konservasi airtanah di Kota
Tangerang.
Berdasarkan pola sebaran batuan sangat memungkinkan bahwa sungai
Cisadane purba bukan berada di posisi sekarang dikarenakan dari sebaran
tahanan jenis yang memungkinkan bahwa sungai Cisadane bergerak menuju timur
dari pola yang ada. Dan berdasarkan sebaran lensa-lensa yang bisa estimasi
sebagai pola aliran sungai purba.

DAFTAR PUSTAKA
Effendi A.C., 1974, Peta Geologi Lembar Bogor Skala 1 : 100.000, Pusat
Pengembangan dan Penelitian Geologi, Bandung
Hadipurwo, S., dan Hadi, S., 2000, Konservasi Airtanah Daerah Jakarta –
Bogor, Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Bandung.
Haryadi, T., dkk., 1996, Konservasi Airtanah Wilayah Jakarta – Bogor –
Tangerang – Bekasi, Direktorat Geologi Tata Lingkungan,
Bandung.
IWACO, 1986, Jabotabek Water Resources Management Study, Directorate
General of Water Resources Development, Jakarta.
Rusmana, 1991, Peta geologi lembar Serang Skala 1 : 100.000, Pusat
Pengembangan dan Penelitian Geologi, Bandung
Sukardi, P., 1986, Peta Hidrogeologi Indonesia Skala 1 : 250.000 Lembar
Jakarta, Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Bandung.
read more

Senin, 13 Desember 2010

DETEKSI POLA PATAHAN DI DESA RENOKENONGO PORONG SIDOARJO DENGAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER

Semburan lumpur Porong Sidoarjo telah menyebabkan terjadi patahan. Patahan ini terjadi akibat perubahan porositas di bawah permukaan karena keluarnya massa batuan. Akibat dari terjadinya patahan ini adalah rusaknya sarana dan prasana yang di lewatinya. Keberadaan patahan ini dapat didetaksi dengan menggunakan metode geolistrik ( tahanan jenis 2D) konfigurasi Wenner, dengan memanfaatkan perbedaan tahanan jenis target terhadap tahanan jenis batuan sekitarnya.
Konfigurasi dilakukan sebanyak tiga lintasan. Lintasan pertama dibentangkan sepanjang 200 meter dan arah E98°S, lintasan kedua sepanjang 120 meter dengan arah N5°E dan lintasan ketiga sepanjang 150 meter dan arah E90°S. Dari penampang resistivitas yang dihasilkan, diperoleh pendugaan posisi patahan/retakan. Untuk lintasan 1 posisi patahan/retakan berada pada titik 43 m; 57 m; 77 m; 98 m; 110 m; 125 m; 136 m. Pada lintasan 2 posisi patahan berada pada titik 50 m dan 100 m.untuk selanjutnya silahkan download aja yah

DOWNLOAD
read more

identivikasi daerah patahan dengan metode geolistrik konfigurasi dipole-dipole di desa renokenongo porong sidoarjo

kali ini fian tidak mau panjang lebar bahas tentan judul di atas langsung anda downloa aja, gratis ko" he he he


DOWNLOAD
read more

Selasa, 07 Desember 2010

APLIKASI METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS KONFIGURASI WENNERSCHLUMBERGER UNTUK SURVEY PIPA BAWAH PERMUKAAN

Bulkis Kanata, Teti Zubaidah
Staff Pengajar pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Mataram
Jl. Majapahit No. 62 Mataram 83125, Tlp. 0370-6608703, Fax. 0370-636523
E-mail : uqinata@yahoo.co.id dan tetizubaidah@yahoo.com
Abstrak
Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu dari metode geofisika yang dapat mendeteksi aliran listrik di bawah permukaan bumi. Salah satu aplikasi metode geolistrik tahanan jenis adalah dapat mengidentifikasi keberadaan pipa di bawah permukaan. Penelitian ini menggunakan metode geolistrik tahanan jenis dengan konfigurasi Wenner–Schlumberger. Metode Wenner–Schlumberger adalah metode dengan sistem aturan spasi yang konstan dengan catatan faktor pengali ’n’ adalah perbandingan jarak antara elektroda C1-P1 atau (C2-P2) dengan P1-P2. Instrumen yang digunakan adalah resistivitymeter yang dilengkapi dengan empat buah elektroda yang memiliki kemampuan dalam pembacaan output respon tegangan akibat arus yang diinjeksikan ke dalam permukaan pasir melalui dua buah elektroda arus dan dua buah elektroda potensial. Masukan instrumen tersebut berupa sumber tegangan DC sebesar 12 volt. Dalam penelitian ini digunakan sofware Res2Dinv untuk memetakan isoresistivity 2D di bawah permukaan yang diukur. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai resistivitas pipa sebesar 181.654 Ωm yang berada pada rentang nilai resistivitas pipa yang diamati sebesar 105 - 107 Ωm. Kata Kunci: Resistivitas, Isoresistivity 2D, Wenner–Schlumberger
Abstract
Geoelectric resistivity method is one of a branch of geophysics method that is able detect an electric current in
the earth subsurface. One of the application of geoelectric resistivity method is able to identify the of pipe in subsurface. This research used the resistivity geoelectric method i.e the Wenner–Schlumberger configuration which is a method with a constant spacing system with notice that factor of ‘n‘ is a spacing comparison between electrode C1- P1 (or C2-P2) with P1-P2. The instrument which is used i.e a Resistivitymeter with four electrodes that able to read the output of voltage respon as consequence current that has been injected in the sand surface through two potential electrodes and two current electrodes. The input of the instrument was dc voltage i.e 12 volt. In this research has been used software Res2Dinv for mapping the isoresistivity in two dimension in subsurface have been mesuared. The result of this research get the value of pipe resistivity was 181.658 Ωm which lie in the range of the pipe resistivity value that is 105 - 107 Ωm. Key Words: Resistivity, Isoresistivity 2D, Wenner–Schlumberger
1. PENDAHULUAN
Adanya penanaman kabel, pipa dan lain-lain di bawah tanah untuk berbagai keperluan diantaranya
kabel telepon, kabel listrik, pipa air dan sebagainya menghendaki keamanan dan keindahan lingkungan
sehingga memerlukan perhatian khusus terutama masalah penggalian. Adanya ketidaktahuan kabelkabel,
pipa yang sudah ada dalam tanah, seringkali menimbulkan masalah diantaranya putusnya kabel,
pecahnya pipa dan lain-lain. Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut di atas, perlu dilakukan studi ke-geofisika-an. Penelitian ini merupakan suatu studi geofisika yang menerapkan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Wenner-Schlumberger. Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang
mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi.
Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial dan arus listrik yang terjadi, baik secara alamiah maupun
akibat injeksi arus di dalam bumi. Metode ini dilakukan dalam sebuah wadah kaca dengan panjang
2 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 0,6 meter. Sebagai host-rock digunakan pasir yang didalamnya terdapat
pipa yang kemudian dilakukan penginjeksian arus menggunakan 4 buah elektroda yang terdiri atas 2
elektroda arus dan 2 elektroda potensial. Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengaplikasikannya di lapangan yaitu untuk menentukan tahanan jenis (resistivitas) bawah
permukaan dan memetakan formasi bawah permukaan sehingga keberadaan benda/material di bawah permukaan dapat teridentifikasi. Aplikasi hasil penelitian ini dapat diterapkan seperti pengidentifikasian pipa air minum, pipa minyak, serta penelusuran kabel listrik dan kabel telpon bawah tanah.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Sakka (2001) mengatakan bahwa tujuan survei geolistrik tahanan jenis adalah mengetahui perbedaan tahanan jenis (resistivitas) bawah permukaan bumi dengan melakukan pengukuran di permukaan bumi. Pengukuran dengan konfigurasi schlumberger menggunakan 4 elektroda, masing-masing 2 elektroda arus dan 2 elektroda potensial dimana telah dilakukan oleh Azhar dan Gunawan Handayani (2004) dengan pemodelan berskala laboratorium untuk mengukur tahanan jenis suatu bahan dengan beberapa sampel batubara dari Tambang Air Laya. Kesimpulannya bahwa salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk memperkirakan
keberadaan dan ketebalan batubara di bawah permukaan adalah metode geolistrik tahanan jenis. Metode geolistrik dapat mendeteksi lapisan batubara pada posisi miring, tegak dan sejajar bidang perlapisan di bawah permukaan. Ilustrasi garis ekuipotensial yang terjadi akibat injeksi arus ditunjukkan pada dua titik arus yang
dan selanjut nya silahkan download disini
read more

Penerapan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger untuk Penentuan Tahanan Jenis Batubara

Azhar1, Gunawan Handayani2
1Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP, Universitas Riau, Pekanbaru 28293
2Jurusan Geofisika Terapan, Institut Teknologi Bandung, Bandung 40132
Diterima 16-02-2003 Disetujui 22-04-2004
ABSTRACT
Geoelectrical method used to study subsurface geology structure, eventhough it can be applied to explore
groundwater, pollution of groundwater, and geothermal exploration. In this study, a physical modeling was built
in the laboratory to measure resistivity of coal samples. The measurements employed Schlumberger configuration. The results showed that coal layer can be detected based on resistivity variation. The semi-anthrasite sample showed resistivity higher than bituminous sample. This result was in accordance with the fact that semi anthrasite was drier than bituminous sample.
Keywords: coal, geoelectrical method, resistivity
PENDAHULUAN
Batubara merupakan sumber energi masa depan (Heriawan 2000). Batubara merupakan batuan
sedimen (padatan) yang dapat terbakar berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam, yang sejak
pengendapannya terkena proses fisika dan kimia yang mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya (Wolf 1984 dalam Anggayana 1999). Penyebaran endapan batubara di Indonesia
ditinjau dari sudut geologi sangat erat hubungannya dengan penyebaran formasi sedimen yang berumur
tersier yang terdapat secara luas di sebagian besar kepulauan di Indonesia. Batubara di Indonesia dapat
dibedakan tiga jenis berdasarkan cara terbentuknya. Pertama, batubara paleogen yaitu endapan batubara
yang terbentuk pada cekungan intramontain terdapat di Ombilin, Bayah, Kalimantan Tenggara, Sulawesi
Selatan, dan sebagainya. Kedua, batubara neogen yakni batubara yang terbentuk pada cekungan foreland terdapat di Tanjung Enim Sumatera Selatan. Ketiga, batubara delta, yaitu endapan batubara di hampir seluruh Kalimantan Timur (Anggayana 1999). Menurut Amri (2000) formasi batubara tersebar di wilayah seluas 298 juta ha di Indonesia, meliputi 40 cekungan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan Jawa. Dari jumlah cekungan tersebut baru 13 cekungan dengan luas sekitar 74 juta ha (sekitar 25%) yang sudah diselidiki. Sementara cekungan yang telah dilakukan penyelidikan terbatas sampai pada tahap penyelidikan umum, eksplorasi, maupun......... dan selanjutanya anda bisa dowload disini
read more

Senin, 06 Desember 2010

PEMODELAN FISIKA APLIKASI METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK INVESTIGASI KEBERADAAN AIR TANAH

Teti Zubaidah, Bulkis Kanata
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Mataram
Jl. Majapahit No. 62 Mataram 83125, Tlp. 0370-6608703, Fax. 0370-636523
E-mail : uqinata@yahoo.co.id dan tetizubaidah@yahoo.com
Abstrak
Pada penelitian ini telah dilakukan suatu pemodelan físika aplikasi metode geolistrik konfigurasi
Schlumberger untuk investigasi keberadaan air tanah. Pemodelan dilakukan pada suatu bak kaca yang diisi dengan
pasir dan tanah liat sebagai host-rock dengan injeksi air tanah untuk berbagai volume. Hasil inversi 2-D
menggunakan perangkat-lunak IP2WIN menunjukkan bahwa metode geolistrik konfigurasi schlumberger dapat
digunakan untuk mengetahui migrasi air tanah. Hal ini dapat dilihat dari perubahan penampang isoresistivitas
sebelum dan sesudah injeksi air dengan jumlah yang berbeda, terutama pada titik injeksi air dalam hal ini Titik 3
yang memiliki nilai resistivitas paling rendah (bersifat konduktif). Resistivitas ini berada pada range resistivitas air
tanah yaitu antara 0,5 sampai 300 ohm meter (Telford, 1990).
Kata Kunci: Geolistrik, Resistivitas, Pemodelan fisika, Schlumberger.
Abstract
A Physical modeling application geoelectrical method with Schlumberger configuration for groundwater
investigation has been done in this research. Modelling was conducted in glass tub with sand and clay as host-rock.
Groungwater with different amount is injected to the host-rock. Result of 2-D inversion used IP2WIN software
show that geoelectric method with Schlumberger configuration is suitable to know ground water migration. This
matter is shown by the change of isoresistivity crosssection before and after be injected for different amount of
water, especially at node of water injection (Titik 3) have least resistivity (conductive). This resistivity exist in the
range of resistivity of groundwater that is 0.5-300 Ohm meter (Telford, 1990).
Key Words: Geoelectric, resistivity, physical modelling, schlumberger.
1. PENDAHULUAN
Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan air semakin meningkat baik untuk keperluan kehidupan sehari-hari manusia, peternakan maupun pertanian. Masalah ini memerlukan pemecahan berupa pencarian sumber-sumber air untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibat pertumbuhan penduduk maka kebutuhan akan daerah pemukiman juga semakin meningkat. Banyak daerah resapan air digunakan sebagai daerah pemukiman, dan sebagai akibatnya daerah tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan air penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Pada musim kemarau, suatu daerah dapat mengalami kekurangan air, sebaliknya pada musim hujan daerah tersebut terkena banjir. Salah satu masalah yang mungkin timbul adalah apakah air yang disimpan tersebut masih berada dalam reservoir yang kita inginkan atau barangkali sudah berpindah (migrasi) ke tempat lain. Migrasi air laut atau daerah pantai yang berpasir juga merupakan masalah yang menggangu penyediaan air layak minum. Untuk itu monitoring intrusi air laut perlu dilakukan untuk
mengurangi dampak yang mungkin terjadi seperti kualitas air yang digunakan dan korosi pada fondasi
bangunan. Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut di atas, perlu dilakukan studi ke-geofisika-an.
Penelitian ini merupakan suatu studi geofisika berupa pemodelan fisis memanfaatkan metode geolistrik
tahanan jenis. Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran
listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi. Dalam hal ini
meliputi pengukuran potensial dan arus listrik yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat injeksi
arus di dalam bumi. Dalam penelitian ini, pemodelan fisis dilakukan dalam sebuah wadah kaca dengan panjang 2 m, lebar 1 m, dan tinggi 0,6 m. Sebagai host-rock digunakan pasir dan tanah liat. Pada media tersebut kemudian diinjeksikan arus dan diukur arus maupun potensialnya. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan 4 buah elektroda, yakni 2 elektroda arus dan 2 elektroda potensial. Pemodelan Fisika Aplikasi …Konfigurasi yang digunakan adalah konfigurasi Schlumberger yang diharapkan dapat digunakan untuk investigasi keberadaan air.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Azhar dan Gunawan Handayani (2004) telah melakukan pemodelan berskala laboratorium untuk
mengukur tahanan jenis beberapa sampel batubara dari Tambang Air Laya menggunakan konfigurasi
Wenner-Schlumberger, dengan dasar pemikiran metode tahanan jenis telah banyak dimanfaatkan
untuk berbagai kepentingan ekplorasi lapisan dangkal. Metoda tahanan jenis merupakan metode
geofisika yang dipakai untuk pengukuran tahanan jenis semu suatu medium. Pengukuran dengan
konfigurasi schlumberger ini menggunakan 4 elektroda, masing-masing 2 elektroda arus dan 2
elektroda potensial. Sampel batubara yang digunakan pada penelitian ini berasal dari tambang Air Laya
Sumatera Selatan dan lempung sebagai medium pengukuran diambil dari daerah Ciembulueit Kota
Bandung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika Bumi Jurusan Fisika ITB. Dari hasil penelitian
yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk
memperkirakan keberadaan dan ketebalan batubara di bawah permukaan adalah metoda geolistrik tahanan
jenis. Metoda geolistrik dapat mendeteksi lapisan batubara pada posisi miring, tegak dan sejajar bidang
perlapisan di bawah permukaan.

DOWNLOAD
read more

METODE GEOLISTRIK UNTUK MENENTUKAN POLA PENYEBARAN FLUIDA GEOTHERMAL DI DAERAH POTENSI PANASBUMI GUNUNG RAJABASA KALIANDA LAMPUNG SELATAN

Nandi Haerudin, Syamsurijal Rasimeng dan Eva Yuliana
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Lampung
Jl. Sumantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung 35145
nandithea@yahoo.com
ABSTRACT
Has been done research to define geothermal fluid spreading pattern used resistivity data. Data acquisition was done used Wenner-Schlumberger configuration on line 3-4, line 3-5, line 1 and line 2 and then found apperent resistivity value ( ρa) on each line, then made 1D model used Resty program and 2D model used Res2dinv program so that found real resistivity value. From the 1D and 2D can be made 3D model to find 3D model result used Rockwork program. The result that is found prove that the layer has potency contain geothermal fluid is sandstone of tuff layer has resistivity value between 24 Ωm – 62,2 Ωm in the depth more than 20 meter. The geothermal spread pattern in the research area is spread laterally, where sandstone tuff as conductive zone and clay as caps rock.
Keywords: Geothermal, Resistivity, 1D, 2D and 3D model
1. PENDAHULUAN
Energi panasbumi adalah energi sumberdaya alam berupa air panas atau uap yang terbentuk dalam reservoir di dalam bumi melalui pemanasan air bawah permukaan oleh batuan beku panas (Tim Pertamina, 2007). Air permukaan yang berasal dari sungai, hujan, danau, laut dan lain-lain meresap menjadi air tanah, mengalir dan bersentuhan dengan tubuh magma atau batuan beku panas tersebut, mendidih serta kemudian membentuk air dan uap panas. Karena berat jenis, temperatur dan tekanannya, uap dan air panas ini mengalir kembali ke permukaan melalui bidang-bidang rekahan di lapisan kulit bumi dan membentuk manifestasi panasbumi. Energi panasbumi ini dapat dimanfaatkan secara langsung untuk pengeringan produksi hasil pertanian, pariwisata dan kebutuhan rumah tangga ataupun secara tidak langsung sebagai penggerak turbin pembangkit listrik (Suharno, 2004). Propinsi Lampung merupakan salah satu daerah di Indonesia yang menyimpan potensi panasbumi yang cukup banyak, dan yang paling terkenal adalah panasbumi Ulubelu di Tanggamus yang sudah dieksplorasi. Sedangkan tempat lain yang juga memiliki potensi panasbumi dan belum dilakukan eksplorasi adalah potensi panasbumi di Gunung Rajabasa. Untuk menggali potensi panasbumi di daerah tersebut, perlu
dilakukan penelitian pendahuluan dengan menggunakan metode survei geofisika, salah satunya adalah metode geolistrik tahanan jenis.
Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu metode geofisika yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengetahui keadaan bawah permukaan, seperti penyelidikan air tanah, keberadaan suatu reservoar dan batuan-batuan penyusun. Untuk lokasi penelitian ini sendiri, sebelumnya sudah dilakukan penyelidikan dengan menggunakan metode geomagnetik, salah satunya yaitu analisis sesar Gunung Rajabasa Lampung Selatan sebagai daerah prospek geothermal berdasarkan data anomali medan magnet total (Rasimeng, 2006), namun pada penyelidikan ini hanya mendapatkan lokasi keberadaan sesar saja, tetapi tidak diketahui pola dari penyebaran fluida geothermal itu sendiri. Penggunaan metode geolistrik tahanan jenis untuk maksud eksplorasi sudah banyak dilakukan sebelumnya, antara lain penyelidikan geolistrik tahanan jenis di daerah panasbumi Pincara, Kabupaten Masamba Sulawesi Selatan (Suhanto dan Bakrun, 2005), selain itu ada juga penyelidikan air tanah dengan menggunakan metode tahanan jenis 2D pada daerah Rangkas Bitung Banten (Turmayatiningsih, 2007) dan masih banyak penelitian yang lainnya yang menggunakan metode geolistrik tahanan jenis.
2. METODE PENELITIAN
Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan untuk pengambilan data lapangan yaitu:
1. Resistivity meter tipe Naniura NRD 22S
2. GPS
3. Elektroda Potensial dan Elektroda Arus
4. Kabel penghubung
5. Accu
Pengolahan Data
Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu metode geolistrik tahanan jenis sounding dengan Konfigurasi Wenner-Schlumberger. Konfigurasi ini dipakai untuk mengetahui variasi harga tahanan jenis secara vertikal. Konfigurasi ini menggunakan 4 elektroda, masing-masing 2 elektroda arus dan 2 elektroda potensial. Jarak elektroda potensial relatif jarang diubah-ubah meskipun jarak elektroda arus selalu berubah-ubah, hal yang harus diperhatikan adalah jarak elektroda arus harus lebih besar dari jarak elektroda potensial.

DOWNLOAD
read more

HIDROGEOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODA GEOLISTRIK ( jurnal fisika )

jurnal fisika                                         Syamsu Rosid dan Johan Muhammad
Geofisika, Departemen Fisika FMIPA Universitas Indonesia
Kampus UI Depok, Depok 16424
email: srosid@fisika.ui.ac.id
ABSTRAK
Pemetaan lapisan akuifer untuk memenuhi kebutuhan industri, perhotelan dan komunitas masyarakat seperti pesantren menjadi sangat signifikan dalam rangka meminimalkan biaya eksploitasi. Sebuah pesantren X di daerah Cihideung Serang dengan populasi 550 santri ternyata kebutuhan primer airnya tidak cukup jika hanya mengandalkan airtanah dari lapisan akuifer permukaan. Apalagi kalau kebutuhan itu digunakan untuk pengembangan potensi santri seperti pengelolaan kolam renang dan pertanian. Telah dilakukan pengukuran dan pemetaan lapisan akuifer di daerah Cihideung, Serang Banten dengan menggunakan metoda geolistrik. Target pemetaan ini adalah untuk mendapatkan lapisan akuifer dalam yang diharapkan memiliki debit dan cadangan air yang sangat besar dan tidak bergantung musim. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger dan bentangan kabel AB/2 hingga mencapai 300 meter. Dari pemodelan 2D diperoleh sebaran airtanah di daerah pengukuran bahwa lapisan akuifer dalam diperkirakan lapisan pasir tufaan dan berada pada kedalaman 40 meter hingga 100 meter. Ketebalan lapisannya bervariasi tergantung pada topografi permukaan dan lapisan kedap air di bawah lapisan akuifer dengan kecenderungan semakin menebal ke bagian bawah danau. Dengan mempertimbangkan estimasi luas daerah pengamatan, ketebalan lapisan akuifer dan porositas batuan reservoarnya serta saturasi air, diperkirakan potensi airtanah di lapisan tersebut mencapai 2,9 juta m3.
Kata kunci: dc resistivity, geolistrik, Schlumberger, akuifer dalam, hidrogeologi.
1. PENDAHULUAN
Dari hasil penyelidikan sebelumnya terhadap lokasi penelitian dengan menggunakan metode geolistrik telah dibuat sebuah sumur bor yang memiliki kedalaman hingga 100 meter. Pembuatan sumur bor hingga kedalaman tersebut bisa menghabiskan banyak dana dan dirasa kurang efektif khususnya untuk memenuhi seluruh kebutuhan air bagi para penghuni pesantren yang tersebar pada lokasi yang cukup luas. Untuk itu, keberadaan airtanah yang lebih terjangkau pada seluruh daerah di lokasi pesantren akan sangat membantu dalam penentuan lokasi sumur bor yang lebih mudah dan efisien. Penyelidikan geolistrik lanjutan di lokasi ini diharapkan akan dapat mengetahui letak-letak airtanah, arah aliran air, volume, serta model hidrogeologi daerah ini. Dengan begitu diharapkan dapat dimanfaatkan dalam menentukan lokasi pengeboran yang tepat serta pengelolaan airtanah bagi para santri dan penduduk yang tinggal disana. Dari beberapa konfigurasi elektroda pada metode geolistrik, konfigurasi Schlumberger menjadi pilihan terbaik dikarenakan jangkauannya yang paling dalam (Barker, 2001). Hal ini sesuai dengan kebutuhan di lapangan mengingat dari sumur bor sebelumnya mencapai kedalaman sekitar 100 meter. Nilai besaran yang dicari melalui metode geolistrik ialah nilai resistivitas batuan. Resistivitas merupakan nilai intrinsik batuan yang menunjukkan seberapa besar hambatan listrik batuan tersebut sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis batuan. Nilai resistivitas batuan dapat diketahui dari besaran terukur yakni ΔV dan I melalui hubungan resistivitas dengan geometri batuan bawah permukaan. Pada metode resistivitas, arus listrik diinjeksikan oleh sepasang elektrode arus AB. Arus listrik akan mengalir di bawah permukaan bumi melalui lapisan-lapisan batuan yang memiliki resistivitas berbeda. Sepasang elektrode tegangan MN yang dibentangkan pada jarak tertentu akan mengukur besar tegangan listrik di permukaan bumi. Dengan mengetahui nilai tegangan dan arus listrik maka nilai resistivitas perlapisan batuan bawah permukaan dapat diprediksi. Hubungan antara resistivitas, beda potensial (ΔV), dan arus listrik (i) yang terukur dipengaruhi oleh geometri dari konfigurasi yang dipergunakan dalam bentuk:

read more
Template by : kendhin x-template.blogspot.com